Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm
Bacaan pertama liturgi sabda hari ini (Kejadian 1:20-2:4) mewartakan tentang kisah penciptaan. Allah menyelesaikan karya-Nya yang berpuncak pada penciptaan manusia (Kejadian 1:26-27). Kemudian mempercayakan semuanya kepada manusia (Kejadian 1:29).
Injil Markus 7:1-13 berbicara tentang pertanyaan orang Farisi kepada Yesus yang melihat para murid-Nya makan tanpa membasuh tangan lebih dulu (Markus 7:2.5). Jawaban Yesus mengacu pada Kitab Nabi Yesaya (Markus 7:6-8) dan ajaran Musa (Markus 7:10-13).
Yesus tidak menolak atau anti terhadap kitab para nabi dan Taurat Musa. Sebaliknya, Dia menegaskan agar orang memahami ajaran yang tertuang di sana secara tepat dan bijaksana.
Orang-orang Farisi menempelkan pada ajaran inti itu banyak aturan tambahan hingga membuat yang paling penting terabaikan. Mereka mesti melakukannya dalam tindakan nyata, tetapi malah hanya mengucapkannya dengan bibir.
Mereka mengubah perintah mendasar untuk menghormati ayah dan ibu demi menaati adat istiadat bikinan manusia (Markus 7:13). Dengan demikian, mereka tidak sungguh menaati perintah Allah.
Yesus yang datang untuk menggenapi Kitab Taurat dan para nabi mengajak orang untuk kembali ke aturan pokok. Bila orang sudah menjalankannya, orang dapat menambahkan aturan yang lain. Orang perlu menaati Tuhan lebih daripada menaati manusia.
Agama memfasilitasi manusia dalam melaksanakan hukum itu. Namun, kasus yang sama dengan yang termuat dalam Injil itu terjadi saat ini. Banyak agama yang menciptakan aturan-aturan kecil yang mengikat seseorang sedemikian hingga mereka melupakan perintah utama, yakni mencintai Tuhan dan sesama.
Akibatnya, agama lebih dirasakan sebagai beban daripada faktor yang membebaskan. Ketika orang menaati aturan manusia, hidup terasa menyulitkan. Namun, orang akan mengalami kebebasan saat mereka lebih menaati Tuhan.
Selasa, 11 Februari 2025HWDSF