Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm
Sabda Tuhan hari ini (Sirakh 5:1-8 dan Markus 9:41-50) bernada negatif. Bahkan memuat ancaman. Bacaan pertama memuat sembilan kata jangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jangan berarti melarang, tidak boleh atau hendaknya tidak usah. Orang mesti memperhatikan semua larangan itu secara sungguh-sungguh, karena menyangkut keselamatan dirinya.
Sembilan rangkaian kata jangan itu bisa dirangkum dalam satu larangan, yakni jangan mengandalkan diri sendiri, termasuk tidak mengandalkan harta milik, kekuasaan, dan pertimbangan dari diri sendiri. Semua ini bertentangan dengan kebijaksanaan yang kemarin kita baca.
"Janganlah mengandalkan kekayaanmu" (Sirakh 5:1). Ini mengingatkan agar orang berhati-hati terhadap kekayaannya. Sebanyak apa pun kekayaannya tidak akan sanggup menyelamatkan nyawanya (Markus 8:36-37). Pada akhir hidup, harta itu tidak berguna sedikit pun (Sirakh 5:8).
Penulis Kitab Putera Sirakh juga berpesan agar orang tidak mengikuti hawa nafsunya (Sirakh 5:2). Nafsu itu hanya kendaraan; bukan tujuan. Mereka yang menjadikannya tujuan akan berakhir dalam kebinasaan. Hidup untuk menuruti hawa nafsu dan keinginannya menjebak orang dalam berhala.
Saat berkuasa pun orang hendaknya tidak menganggap bahwa hidupnya terjamin. Sejarah membuktikan bahwa kekuasaan itu memiliki batas. Sebesar apa pun kekuasaan seseorang, dia tidak akan sanggup melawan kematian. Manusia itu terbatas.
Yang juga penting diingat adalah bahwa manusia perlu menyadari dosanya dan mesti bertobat. "Jangan menunda-nunda untuk bertobat kepada Tuhan, jangan kautangguhkan dari hari ke hari" (Sirakh 5:7). Inilah yang sekarang banyak diremehkan. Berapa orang sungguh telah bertobat dari dosanya?
Injil hari ini (Markus 9:41-50) menegaskan dua hal. Pertama, buah atau berkat bagi mereka yang berbuat baik kepada para pengikut Kristus (Markus 9:41). Kedua, hukuman bagi mereka yang menyesatkan orang yang telah percaya kepada Kristus (Markus 9:42).
Lebih tegas daripada Kitab Putera Sirakh, Injil menegaskan supaya orang memenggal tangan, kaki, atau mencungkil matanya jika semua itu menyebabkan dia dimasukkan ke dalam neraka (Markus 9: 43-48). Yesus tidak menganjurkan orang melakukan hal itu. Dia menegaskan bahwa yang duniawi ini tidak bermanfaat bagi keselamatan jiwa seseorang.
Jika itu semua menghalanginya mencapai keselamatan dan persatuan dengan Tuhan, hendaknya orang melepaskannya. Apakah selama ini kita mengandalkan diri sendiri, harta milik, kekuasaan, atau pertimbangan manusiawi dan melupakan kebijaksanaan ilahi? Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan!
Kamis, 27 Februari 2025HWDSF