Suara Keheningan | RP. Inosensius Ino, O.Carm
Sering kali dalam hidup ini, kita merasa lelah dan putus asa. Ada banyak pergumulan yang kita hadapi, ada luka yang terasa sulit disembuhkan, dan ada ketidakpastian yang membuat hati kita gundah. Dalam keadaan seperti itu, kita bertanya: "Apakah Tuhan masih peduli?" Inilah pertanyaan yang juga diajukan oleh umat Israel dalam bacaan hari ini (Yes 49:14), ketika mereka merasa ditinggalkan dan dilupakan oleh Allah. Tetapi Allah tidak tinggal diam. Ia berbicara kepada mereka dalam bahasa yang paling mereka butuhkan: bahasa kasih.
Hamba Tuhan sebagai Perantara Kasih Allah
Bacaan dari Yesaya menyingkapkan sosok "Hamba Tuhan" yang diutus untuk menjadi tanda kasih Allah bagi umat-Nya. Sosok ini bukan hanya sekadar penyampai pesan, tetapi juga perwujudan kasih Allah yang membebaskan dan memperbarui.
Hamba Tuhan membawa kabar baik kepada orang-orang yang tertawan, memberikan pengharapan kepada mereka yang putus asa, dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Ini adalah gambaran yang akhirnya digenapi dalam diri Yesus Kristus, yang datang untuk menyembuhkan, membangkitkan, dan menyelamatkan umat manusia.
Kasih yang Menghidupkan
Dalam Injil hari ini, Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah pernyataan kasih Allah yang hidup. Ia datang bukan sekadar untuk mengajarkan hukum, tetapi untuk membawa kehidupan. Firman-Nya bukan hanya kata-kata, melainkan memiliki kuasa yang menghidupkan. Yesus berkata, "Barang siapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal" (Yoh 5:24). Ini adalah janji luar biasa bahwa kasih Allah bukan hanya sesuatu yang kita harapkan di masa depan, tetapi sesuatu yang dapat kita alami saat ini juga.
Kasih Allah yang Tak Berkesudahan
Ketika umat Israel meragukan kasih Allah, Tuhan menjawab dengan lembut, "Dapatkah seorang ibu melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya?" (Yes 49:15). Ini adalah bahasa kasih yang paling dalam, kasih seorang ibu yang tidak akan pernah meninggalkan anaknya. Bahkan jika seorang ibu pun bisa melupakan, Tuhan tidak akan melupakan kita. Inilah jaminan yang menguatkan kita dalam masa-masa sulit.
Panggilan untuk Berbahasa Kasih
Jika Allah telah berbicara kepada kita dalam bahasa kasih, maka kita juga dipanggil untuk menggunakan bahasa kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kita diajak untuk tidak hanya berbicara dengan kata-kata yang baik, tetapi juga bertindak dengan kasih. Ada begitu banyak orang di sekitar kita yang haus akan kasih: mereka yang kesepian, mereka yang tertolak, mereka yang sedang berjuang. Mungkin Tuhan ingin memakai kita sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk menyampaikan kasih-Nya kepada mereka.
Dalam setiap situasi, Tuhan selalu berbicara kepada kita dengan bahasa kasih. Ketika kita merasa lemah, Dia menguatkan. Ketika kita merasa sendirian, Dia mendampingi. Ketika kita merasa berdosa, Dia mengampuni. Mari kita membuka hati untuk menerima kasih-Nya dan membagikannya kepada sesama. Dengan begitu, kita bukan hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelaku kasih Allah di dunia ini. Mari kita menggunakan bahasa kasih dalam setiap perjumpaan kita dengan siapa saja.