1 min dibaca
01 Mar
01Mar
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm


Setelah beberapa hari merenungkan pesan Kitab Putera Sirakh, hari ini kita kembali merenungkan Injil. Bacaan kali ini (Markus 10:13-16) berbicara tentang Yesus yang memberkati anak-anak yang dibawa kepada-Nya.

Para murid Yesus memarahi orang-orang itu (Markus 10:13). Mungkin para murid itu menganggap anak-anak mengganggu perjalanan Yesus. Namun Yesus justru memarahi para murid-Nya. "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku! Jangan menghalang-halangi mereka! Sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Markus 10:14). 

Mengapa Yesus menyebut anak-anak itu demikian? Minimal ada dua alasan. Pertama, anak-anak itu menunjukkan pribadi manusia yang percaya. Sikap percaya mereka kepada orang dewasa menggambarkan sikap beriman kepada Tuhan. Hal ini relevan dengan ajaran dari Kitab Putera Sirakh yang menasihati agar orang menaruh kepercayaan kepada Tuhan; bukan hanya pada diri sendiri. 

Kedua, anak-anak pada umumnya memiliki "curiosity" atau rasa ingin tahu yang besar. Rasa itu lahir dari sikap kagum, heran, atau bertanya-tanya. Ini adalah bibit iman. Abraham Joshua Heschel, rabi Yahudi berkebangsaan Amerika, mengatakan bahwa rasa heran ("wonder") melahirkan iman.

Rasa ingin tahu dan penuh kekaguman itu juga mencerminkan keterbukaan mereka untuk belajar dan mengalami dunia di sekitar mereka. Karena itu, anak-anak itu pada dasarnya suka belajar. Bila mereka menemukan orangtua dan guru yang berbakat untuk mengajar, mereka menjadi manusia-manusia hebat dan amat bermanfaat bagi masyarakat.

"Tedyouth talks" dan "America's Got Talent" hanyalah dua forum yang menunjukkan betapa anak-anak itu ciptaan Tuhan yang mengagumkan dan penuh bakat. Cobalah, sesekali menonton "Tedyouth talks"! 
Sayangnya, banyak orang dewasa justru melakukan yang sebaliknya. Mereka melarang anak-anak belajar; mengurung mereka dalam pandangan yang sempit. Karena alasan agama, mereka dilarang bergaul dengan teman yang berbeda agama. 

Apa pesan Injil hari ini?  Yesus menekankan bahwa orang dewasa perlu menerima Kerajaan Surga seperti anak kecil untuk memasukinya. Caranya? Dengan menyadari keterbatasan diri, mengembangkan rasa ingin tahu dan terus belajar, terutama belajar percaya kepada Tuhan. Dengan menghayati spiritualitas kanak-kanak, orang dewasa dapat memperdalam hubungannya dengan Tuhan dan mengalami Kerajaan Allah dengan cara yang lebih mendalam.

Sabtu, 1 Maret 2025HWDSF

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.