Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm
Bacaan pertama liturgi sabda hari ini (Sirakh 4:11-19) berbicara tentang kebijaksanaan. Perikop ini bisa dibagi ke dalam tiga bagian. Pertama, buah-buah hidup manusia yang mencintai kebijaksanaan (Sirakh 4:4-15). Kedua, jalan yang ditawarkan oleh kebijaksanaan (Sirakh 4:16-18). Ketiga, akibat dari hidup yang menyimpang dari kebijaksanaan (Sirakh 4:19).
Mengapa kebijaksanaan itu penting? Karena kebijaksanaan tidak pernah mengecewakan mereka yang mencarinya (Sirakh 4:11). "Barang siapa berpaut pada kebijaksanaan mewarisi kemuliaan, dan diberkati Tuhan setiap langkahnya" (Sirakh 4:13). Tuhan mencintai mereka yang mencintai kebijaksanaan (Sirakh 4:14).
Kebijaksanaan itu melebihi pengetahuan dan dekat dengan kehidupan. Ia bukan teori hasil olah akal budi, tetapi anugerah ilahi yang amat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. "Barang siapa mendengarkan kebijaksanaan akan memutuskan yang adil, dan aman sentosalah kediaman orang yang mengindahkannya" (Sirakh 4:15).
Sebagai suatu anugerah, kebijaksanaan sering menantang hidup manusia. Ia menuntun manusia melalui jalan yang berkelok-kelok supaya orang takut dan gemetar dan menyiksa manusia sehingga ia dapat percaya (Sirakh 4:17). Namun kebijaksanaan tidak pernah akan mengecewakan manusia (Sirakh 4:18).
Semua itu bukan teori tanpa bukti. Gereja menyaksikan contoh konkret dari mereka yang telah mempraktikkannya, yakni para suci. Santo dan santa mewujudkan pribadi-pribadi yang percaya dan mengikuti kebijaksanaan. Mereka diuji dalam pelbagai tantangan dan kesulitan, terutama di tengah kehidupan yang melawan kebijaksanaan (Sirakh 4:19).
Karena mereka bertekun dan bertahan tanpa menyimpang dari jalan Tuhan, Tuhan menuntunnya dengan keutamaan dan rahmat hingga mencapai persatuan dengan-Nya. Santo Yohanes dari Salib, misalnya, menggambarkan perjalanan itu sebagai malam gelap dari jiwa. Di sana, dia belajar berserah kepada Tuhan.
Sikap ini melawan budaya ("counter culture") dari cara pikir manusia masa kini yang kerap hanya mengandalkan perhitungan akal budi manusiawi dan takut kehilangan hal-hal duniawi. Para kudus menunjukkan bahwa hanya dengan melepaskan segalanya orang akan memperoleh kembali semuanya.
Ini hanya mungkin bila orang benar-benar seratus persen berserah kepada Tuhan dan percaya akan penyelenggaraan ilahinya. Orang yang percaya bahwa Tuhan sungguh mengasihi dan peduli akan datang kepada-Nya tanpa rasa takut. Mereka yang menghayati sikap ini telah memilih kebijaksanaan.
Rabu, 26 Februari 2025HWDSF